Feed on
Posts
Comments

“Selamat tinggal, o Matahari!” Seru Kapten Nemo saat mencapai Kutub Selatan dan melihat matahari senja tanggal 21 Maret merayap mendekati horizon.

“Le lendemain, 22 mars, à six heures du matin, les préparatifs de départ furent commencés. Les dernières lueurs du crépuscule se fondaient dans la nuit. Le froid était vif. Les constellations resplendissaient avec une surprenante intensité. Au zénith brillait cette admirable Croix du Sud, l’étoile polaire des régions antarctiques.” –Jules Verne, Vingt Mille Lieues sous les mers: Deuxième partie, Chapitre XV, Accident ou incident ?
(Pagi berikutnya, 22 Maret, pukul enam pagi, persiapan untuk keberangkatan telah dimulai. Berkas senja terakhir meleleh bersama malam. Dingin begitu terasa. Rasi-rasi bintang bersinar terang mengagumkan. Di zenith bersinar Salib Selatan yang mengagumkan, bintang kutub di daerah antarktika. –Jules Verne, Dua Puluh Ribu Mil di Bawah Laut: Bagian Kedua, Bab 15, Kecelakaan atau insiden?)

Waktu kecil aku suka baca buku-buku Jules Verne. Favoritku tetap Keliling Dunia dalam 80 Hari, lebih karena sosok Phileas Fogg yang cool dan penuh perhitungan. Kalau dipikir-pikir hidupnya yang sangat teratur sangat membosankan dan snobbish, tapi petualangan yang dijalaninya selama 80 hari menarik sekali. Continue Reading »

Peringatan: Ada spoiler-nya. Baca atas risiko sendiri, jangan salahkan saya.

Dalam Indiana Jones and the Kingdom of the Crystal Skull, siluet Indiana Jones dan topi fedoranya terlihat lebih dahulu sebelum kamera menampilkan wajahnya. Serupa dengan Raiders of the Lost Ark yang hanya menampilkan siluet Indy sebelum akhirnya menampilkan wajahnya setelah hampir 10 menit. Dalam sebuah wawancara, Spielberg mengatakan bahwa Indiana Jones adalah satu dari sedikit karakter yang dapat ditampilkan dalam siluet dan tetap dikenali. Siluet ikonik Indiana Jones ini beberapa kali dimanfaatkan Spielberg untuk efek dramatik, dan dengan efektif menandai kemunculan kembali sang pahlawan setelah 19 tahun absen. Aku menonton film keempat Indiana Jones ini pada hari premiere di Amsterdam. Semenjak aku langganan Star Wars Insider sekitar 14 tahun lalu, berita tentang film ke-4 Indiana Jones sudah beredar dan film ini memang kutunggu-tunggu sejak tahun 1995an, barangkali lebih kuharapkan ketimbang prekuel Star Wars yang jadinya mengecewakan (Jar-Jar Binks? Midi-chlorian? Eugghh…). Setelah hampir 20 tahun semenjak The Last Crusade, kupikir ini pasti banyak nostalgianya. Ternyata memang betul: Spielberg dan Lucas sedang bernostalgia dengan Indiana Jones. Continue Reading »

Logo baru TVRISony Crockett, dimainkan oleh Don Johnson, bintang utama serial tv Miami Vice, diputar RCTI setiap hari Senin jam 20.00. Ganteng, dashing, selalu bawa beceng dan mengenakan setelan putih, tinggal di kapal, selalu naik mobil mentereng, dan punya partner kerja yang juga tak kalah keren: Ricardo Tubbs, dimainkan oleh Phillip Michael Thomas. Serial yang sangat chic dan menjadi trend-setter pada jamannya, dan menjadi fenomena.

Jan Hammer, komponis tema-tema dalam Miami Vice juga menggubah tema pembuka yang mencerminkan musik 80an yang menggunakan synthesizer. Untuk karakter Sony Crockett juga diciptakan tema khusus berjudul Crockett’s Theme:
– Apa hubungannya dengan prakiraan cuaca?>

Sekali di udara, tetap di udara!Bukan… Joe Satriani tidak pernah rekaman di Radio Republik Indonesia (kalau pernah, wah keren sekali!)… tapi setiap kali aku mendengar lagu ini (waktu itu si bos masih gondrong):

…pasti teringat dengan Radio Republik Indonesia (RRI). Apa pasal? Continue Reading »

“A bad workman always blames his tools” means somebody always blames something for his own incompetence. This is an equivalent proverb for this wise word: “Buruk muka cermin dibelah,” (Ugly face and the mirror is shattered) There are several examples I’ve encountered:

  • “A bad programmer always blames his programming tools,” said Ebonk one time when I complain about my code.
  • “A bad photographer always blames his tools,” said D. Setiadi to photographers who think that their cameras are the one who make their photos under-exposure or badly composed. There is even another version for this proverb: “Buruk foto, kamera dijual” (Ugly picture and the camera is sold).
  • “A bad experimentalist always blames his laboratory equipment,” somebody once said to me concerning laboratory science.

Now what about theoretical physicists? Does a bad theorist always blames his brain?

Poster CPN mendukung kemerdekaan Indonesia
Poster Partai Komunis Belanda yang diterbitkan menyongsong pemilu tahun 1933, mendukung kemerdekaan Indonesia dari Belanda. Terjemahan teks: Indonesia lepas dari Belanda sekarang juga, Masyarakat yang menindas masyarakat lainnya bukanlah masyarakat yang bebas (Karl Marx), dan Pilih Komunis. Kredit: International Institute for Social History, Amsterdam

Hari ini, 1 Mei, adalah Hari Buruh Internasional. Sebagaimana biasa, hari ini diperingati oleh kaum komunis sedunia, turun ke jalan mengorganisir pemogokan dan menyerukan tuntutan-tuntutan perubahan. Tidak hanya mengenai kondisi di tempat kerja, tapi juga kondisi nasional.

Kalau tidak salah ingat, sudah tujuh May Day berlalu semenjak aku terakhir terlibat aktif di dalam pengorganisirannya. Dua May Day lalu saja, waktu masih di Indonesia, rasanya aku gak ikutan. Hari Buruh Internasional kurang seru kalau gak ada lagu Internasionale atau Darah Rakyat.

Ayo nyanyi semuanya!

Bangunlah kaum yang terhina
Bangunlah kaum yang lapar
Kehendak yang mulia dalam dunia
Senantiasa bertambah besar

Hancurkan adat dan faham tua
Kita rakyat sadar-sadar
Dunia sudah berganti rupa
Tuk kemenangan kita

Perjuangan penghabisan
Bangkitlah melawan
dan Internasionale
pastilah di dunia

Lagu Internationale barangkali adalah lagu yang paling banyak diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Bahkan lagu ini sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Klingon! (Entah siapa yang mau menyanyikan lagu ini dalam Bahasa Klingon) Ini misalnya, beberapa contoh:

Sebagian besar bisa didownload di sini. Ngomong-ngomong, kalau penasaran dengan Internasionale yang mirip lagu India, sebenarnya itu Bahasa Kurdi.

Jangan lupa siang ini ikut aksi di Istana Merdeka, dan kenali muka-muka di sini! Salam ya kalau ketemu, hehehehe…

Jebakan Batman

Jebakan Batman!Jebakan Batman sang profesor! Awas hati-hati! Ceritanya begini, suatu hari ada e-mail dari seorang Profesor Fisika yang baru saja dikukuhkan. Semester lalu dia membuka kuliah baru tentang Astropartikel, aku datang dan dapat 8 untuk kuliahnya (ya terang dong, kuliahnya open-book sih :D). Lalu seluruh mahasiswanya yang mengikuti kuliah tersebut diundang untuk menghadiri pidato pengukuhannya sebagai guru besar. Aku satu-satunya mahasiswanya yang datang hadir, lalu harus duduk diam pula mendengarkan pidatonya yang berbahasa Belanda, wah susah banget memahaminya (menerjemahkan doang sih lumayan). Setelah pidato pengukuhan ada acara minum-minum informal dan aku kasih selamat lalu dia bilang, “Wah saya ingat kamu! Terima kasih atas kedatangannya, mudah-mudahan kamu menikmati pidatonya.”
“Ya lumayan, Bahasa Belanda saya masih gado-gado tapi saya bisa mengerti sedikit-sedikit. Menarik sekali” (basa-basi banget! Sudahlah, orang Indonesia memang paling jago basa-basi karena sepanjang hari harus begitu :p)
“Kirim e-mail ya kapan-kapan tentang perkembangan studi kamu, saya mau dengar bagaimana ceritanya.”
“Gitu deh. Saya sedang mengerjakan thesis dan sebentar lagi lulus. Saya sedang mencari PhD sekarang.”
“Then you should definitely send me an e-mail.”
“Okay,”
jawabku. Continue Reading »

Begitu katanya peribahasa berbahasa Inggris tersebut: “Three time is the charm”, artinya: kalau sudah 2 kali mencoba hal yang sama dan gagal, maka yang ketiga pasti berhasil. Ah enggak juga tuh, namanya juga tahayul pasti kadang betul kadangkala juga tidak (dan kalau berhasil, maka kita akan lupa bahwa itu hanya kebetulan saja. Astrologi alias ramalan bintang misalnya, pasti yang diingat-ingat hanya yang akurat-akurat saja sementara yang tidak akurat akan dilupakan). Dulu jamannya masih S1, waktu mengambil kuliah Mavek (Matriks dan Ruang Vektor) rasanya aku butuh 3 kali baru bisa lulus dan itupun hanya dapat D. Astrofisika I juga butuh 3 kali untuk bisa lulus. Namun kali ini untuk Teori Kuantum, sudah tiga kali mengambil ujiannya pun masih belum lulus! Kali pertama ngambil dapat 3 (dari 10), kali kedua dapat 3.5, kali ketiga dapat 5. Lumayan lah minimal ada peningkatan meskipun belum sampai dapat 6 yang merupakan batas minimal untuk dapat lulus. Akhirnya setelah berdiskusi dengan dosen yang memberi kuliah, dia mau memberi tugas tambahan.
“Kamu bisa gak selesaikan soal ujian terakhir, nomor 2 dan nomor 3?”
“Oke.”
“Dua minggu selesai ya.”
“Oke.” Continue Reading »

Sudah hampir setahun tidak ada riset. Sibuk mengejar ujian. Waktu habis pula memikirkan topik riset yang cocok. Belum lagi pikiran habis untuk memikirkan cara-cara mencari duit. Kuliah tanpa duit memang repot, apalagi kalau kuliahnya di luar negeri.

Desember lalu ada celah. Koen Kuijken masih punya data yang perlu diolah, hasil penelitiannya mengenai bintang-bintang di bulge Galaksi kita. Temanku si Hugo, kantornya cuma dua pintu dari kantorku, semester lalu mengerjakan topik ini untuk riset minornya. Tugas Hugo waktu itu adalah mengukur gerak diri bintang-bintang di 4 medan yang dipotret Koen dengan WFPC2 (Wide Field Planetary Camera 2) yang terpasang di HST (Hubble Space Telescope). Gerak diri adalah gerakan bintang, diukur dengan membandingkan dua atau lebih potret yang diambil dalam rentang waktu yang lama. Hugo membandingkan beberapa foto yang diambil dalam rentang 9 tahun. Dengan membandingkan posisi objek-objek dalam dua foto tersebut, bisa diukur seberapa jauh bintang tersebut berpindah posisi. Dari pengukuran gerak diri ini, kecepatan bintang dapat diketahui. Continue Reading »

Sebuah photon: partikel tak bermassa yang membawa energi. Wujud energi tersebut adalah radiasi elektromagnetik, dan besarnya energi tersebut tergantung pada panjang gelombang dari radiasi elektromagnetiknya. Panjang gelombang pendek sekali, misalnya sinar gamma, energinya teramat tinggi. Lebih panjang lagi, sinar-x, energinya lumayan tinggi. Dan seterusnya. Photon tercipta melalui berbagai fenomena, baik yang luar biasa maupun yang sehari-hari: melalui penciptaan alam semesta sendiri, melalui reaksi nuklir dalam inti bintang, dari hamburan elektron dalam tabung fluoresen yang menghasilkan cahaya lampu neon, dari pijaran kawat tungsten dalam bohlam lampu, dan seterusnya. Photon juga bisa hancur karena diserap elektron, untuk kemudian diciptakan melalui proses radiasi lainnya. Continue Reading »

Older Posts »